Brand Harus Unik dan Otentik

Supaya semakin mudah dikenali, kita harus sangat berbeda dari yang lain. Banyak pemilik brand yang mengerti ini, tapi sedikit yang mau mengambil potensi itu. Mereka mengatakan bahwa menjadi unik itu resikonya tinggi, karena pilihannya hanya dua; menjadi terkenal, atau tidak diterima sama sekali oleh publik karena dianggap aneh.
Benar, menjadi unik itu resikonya tinggi. Peluangnya 50:50. Mereka yang kompeten dan percaya diri, membaca ini sebagai peluang sukses yang tinggi. Tetapi, untuk mereka yang peragu yang kurang percaya dengan kualitas diri?membaca hal ini sebagai resiko gagal yang besar. Setelah itu, para peragu lebih cenderung memilih jalur populer, yakni mengikuti pemimpin pasarnya atau mengikuti kebiasaan yang sudah pasti diterima oleh publiknya, sebagai upaya untuk memperkecil resiko kegagalan. Benarkah demikian?

JANGAN Mau Jadi Orang Lain

Mengikuti pola identitas yang sama dengan yang lain artinya berbagi kue kesuksesan bersama pemilik pola identitas itu, dan jatahnya tetap tidak lebih dari peluang 50% tadi. Jadi, menjadi populer atau follower trend bukanlah mengurangi resiko gagal, tetapi justru mengurangi peluang sukses.
Sisi negatif dari para penganut arus non-unik atau populer adalah mereka sedang tidak jadi diri mereka sendiri?identitas mereka didikte oleh keinginan pasar dan kompetitor. Tanpa disadari, mereka sedang mengikis keunikan identitas dan menjadi bukan diri mereka sendiri alias tidak otentik. Berbahagialah brand yang bukan didikte pasar, tetapi justru memberi inspirasi pada pasar. Brand ini paham bahwa dimensi kebutuhan publik bukan hanya terhadap produk atau jasa yang sudah ada, tetapi juga menyediakan produk yang diimpikan publik atau memenuhi aspirasi publik, dan produk yang sama sekali di luar impian publik atau menginspirasi.

JANGAN Terlalu Percaya bahwa Logo Bukan Brand

Logo memang bukan brand. Tapi percayalah bahwa dalam suatu kesempatan, logo adalah brand. Pada saat kita tak punya kesempatan dan modal yang cukup untuk berkomunikasi, maka tampilan logo adalah representasi utuh dari brand. Pada saat pertama kali dikenalkan ke publik, logo adalah pintu gerbang menuju bangunan brand, atau intro menuju cerita brand yang lebih utuh.
Membuat logo yang konservatif, atau yang umum dipakai dalam kategorinya, berarti sedang merusak pintu gerbang dan intro brand. Publik akan kesulitan masuk ke bangunan atau mendapat gambaran cerita brand.

Baca juga:  8 Hal Penyebab Utama Gagalnya Start Up Bisnis

JANGAN Mau Jadi Rata-Rata

Pasar tidak akan mencari yang rata-rata. Mereka akan mencari harga yang paling murah dari yang paling bagus atau yang paling mahal dari yang paling sesuai. Yang menjadi bahan perbincangan adalah yang paling norak atau paling canggih yang rata-rata seringkali tidak diingat sama sekali. Mereka akan membeli yang paling cocok dengan selera dari yang realistis atau yang paling memperlihatkan gengsi dari yang diimpi-impikan. Jadi, yang dibeli adalah yang sensasional bukan lagi yang hanya memamerkan keunggulan produk.
Kecuali bila kita tak ingin berinteraksi atau bersosialisasi hanya perlu dianggap eksis maka identitas tak perlu unik. Untuk bisa menjadi rata-rata, kita hanya perlu mengirim sinyal berupa tebaran senyum, sapaan ramah dan obrolan menarik. Tetapi jika ingin terjadi interaksi yang intensif dan bermanfaat perlu usaha lebih dari itu. Cara berpakaian, makna pembicaraan, pilihan gaya hidup dan tingkatan adat serta adab, sangat membantu kita dalam membentuk identitas yang unik.

JANGAN Lupa: Brand Harus Unik dan Otentik!

Sebenarnya banyak brand yang ingin unik, tapi kemudian banyak faktor yang mengikis keinginan itu, misalnya yang paling sering terjadi adalah sebuah brand ingin mengulang cerita kesuksesan brand lain, sehingga memakai pola identitas yang sama. Ini adalah titik awal pengikisan keunikan yang membuat brand-nya justru identik dengan brand lain.
Contoh lain, brand yang tidak berani menyatakan target market yang fokus, sehingga identitasnya terjebak menjadi ?ingin membahagiakan semua. Hal ini menyebabkan karakternya tidak jelas dan terlalu umum, sehingga sulit dikenali karakter yang menonjolnya.
Contoh berikutnya, banyak brand yang kurang mau introspeksi, sehingga tidak menemukan keunikan diri. Riset dan diskusi yang intensif akan menemukan kualitas nilai diri yang tadinya kurang terlihat atau kurang diasah. Banyak brand yang sudah cukup puas dengan keunggulan diri, tanpa penilaian lebih lanjut bahwa keunggulan tersebut akan dengan mudahnya disamai atau disaingi oleh kompetitornya.
Banyak juga yang sering terjebak untuk jadi tidak otentik. Contohnya adalah pemilik dan brand designer yang terlalu asyik berupaya untuk memberi impresi kepada publik, sehingga menjauh dari kondisi nyata diri dan visinya. Terlalu mengikuti arus dan persaingan, sehingga menggunakan pola komunikasi yang tidak menggambarkan jati dirinya, berubah-ubah personality-nya, malah ada yang terpancing untuk berkomunikasi ala kompetitornya.
Mari kita aplikasikan wacana di atas ke dalam contoh kasus. Misalkan kita ambil contoh kasus rebranding Mutiara bank.

Baca juga:  Bedanya Bisnis Dengan Dagang

Tujuan awal branding adalah untuk mendapat perhatian publik.

Mutiara bank lahir di dalam kondisi perhatian publik yang sangat besar terhadapnya, karena skandal bank Century. Ini adalah kondisi yang diidam-idamkan oleh semua brand. Beberapa bahkan rela mengeluarkan investasi ?misalnya dalam bentuk public relation, brand activation, atau iklan?yang sangat besar demi mendapat perhatian seperti itu. Mutiara bank membuang kesempatan itu, ditandai dengan memproyeksikan identitas yang kurang unik. Pendekatan tampilannya menggunakan ekspresi, kepribadian dan muatan komunikasi yang biasa dipakai oleh bank lain?biasa-biasa saja, tidak mengundang sensasi.
Tujuan membuat identitas adalah agar dapat membedakan diri. Untuk meninggalkan persepsi dan memutus sejarah negatif dari bank sebelumnya, Mutiara bank sebaiknya membuat manuver yang progresif dan berbeda secara signifikan. Ini membutuhkan pola identitas yang bukan hanya berbeda dari sebelumnya, tetapi juga harus mampu mendirikan makna baru, sehingga membangun citra bahwa Mutiara bank juga berbeda dengan bank-bank yang sudah ada. Ini menunjukkan kepercayaan diri, keberanian untuk mengambil sikap, kesiapan diri untuk turut berkompetisi di bisnis perbankan, sehingga karakter-karakter tersebut mudah-mudahan dapat menghapus reputasi negatif sebelumnya.
Mengubah nama adalah langkah strategis, tetapi tingkat strategisnya akan sangat bergantung pada pilihan namanya. Nama Mutiara bank mungkin akan dianggap satu pola dengan nama Bank Permata. Mereka pastilah ingin menghubungkan diri dengan makna bernilai. Mereka akan dianggap identik cukup strategiskah itu?
Logo Mutiara bank yang tidak sensasional menyebabkan ia tidak menjadi bahan perbincangan, nyaris tak dihiraukan, sehingga brand ini kehilangan kesempatan untuk membawa publik masuk melalui pintu gerbang-nya menuju ke dalam bangunan brand.
Sebagai brand yang terjepit masalah politis, sehingga tak punya banyak kesempatan untuk berbicara, Mutiara bank sebaiknya memunculkan logo yang bisa mulai menyapa dan bertutur dengan ekspresi yang berbeda dari bank-bank lain. Tidak usah hiperbola, tetapi misalnya justru dengan pendekatan yang sangat rendah hati asalkan sesuai jati diri.
Disalin dari milist TDA

TDA Balikpapan

TDA Balikpapan adalah komunitas pengusaha yang berada di Kota Balikpapan. Beranggotakan mulai dari pengusaha kawakan, pengusaha amatiran, pencari usaha, karyawan dan pengangguran. Siapa saja yang punya komitment untuk maju dan sukses bersama-sama bisa bergabung di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *