Berbisnis Dengan Akhlaq Karimah

Untuk menghemat biaya transport ke kantor, beberapa kali saya dengan sengaja bersepeda menuju stasiun kereta yang terdekat. Setelah sepeda saya taruh di tempat penitipan, saya melanjutkan perjalanan ke kantor dengan menggunakan kereta.

Pengalaman di hari pertama cukup membuat saya terkejut. Saya menaruh sepeda di tempat yang menurut saya cukup aman karena tidak ada instruksi dari petugas yang ada saat itu. Malam hari pada saat akan mengambil sepeda, saya merasa kebingungan karena tak kunjung mendapatkan sepeda saya. Setelah cukup lama mencari dan tidak menemukan, saya bertanya kepada petugas jaga. Tidak lama petugas tersebut menunjukkan sepeda saya di sebuah pojok yang tidak saya duga, dengan posisi terbalik (seperti dilempar). Melihat hal tersebut, saya merasa sangat kecewa, apalagi saya membayar dengan tarif penitipan yang sama dengan motor.

Hari-hari berikutnya kejadiannya kurang lebih sama. Sepeda saya selalu tidak ada ditempat saya menaruhnya dan ditaruh pada tempat dan posisi yang tidak layak. Padahal di pagi hari saya telah menaruh sepeda sesuai instruksi petugas.

Karena terus berulang, akhirnya saya berkesimpulan bahwa seperti itulah tempat penitipan (sebut saja tempat penitipan A) memperlakukan sepeda-sepeda yang dititipkan kepadanya. Motor lebih dipandang dan dihormati dibandingkan sepeda. Walaupun, tarif bayarnya sama.

Suatu hari dalam perjalanan menuju stasiun, ada seseorang yang bersepeda pula di depan saya. Kalau melihat dari penampilannya, saya menduga orang tersebut juga akan menuju ke stasiun. Qadarullah, ternyata benar. Tiba-tiba orang tersebut berbelok ke sebuah tempat penitipan yang pintu masuknya tidak terlalu terlihat. Berharap mendapatkan tempat penitipan yang lebih baik, akhirnya saya mengikuti orang tersebut. Setelah saya taruh di tempat, lalu seperti biasa saya tinggal.

Baca juga:  Lakukan lebih baik dari yang ditugaskan!

Malam harinya, saya merasa surprise karena sepeda saya masih tetap pada tempatnya semula. Ditambah, biaya penitipan sepeda yang lebih murah daripada motor, separuh harga dari tempat penitipan A sebelumnya. Demikian hari-hari berikutnya, sepeda tidak pernah berpindah dari tempat dimana saya menaruhnya. Dan saya amati, ternyata semua sepeda pun diperlakukan sama. Saya sangat mengapresiasi.

Sampai suatu saat tanpa sengaja saya mendengar pemilik dari tempat penitipan tersebut sedang memberikan instruksi kepada karyawannya, yang inti pesannya kalau saya bahasakan kembali:

“Walaupun biaya penitipan sepeda hanya separuh harga dari motor, tapi kamu jangan pernah seenaknya memindahkan sepeda itu dari tempatnya. Kasihan pemiliknya sulit mencari. Dan jangan kamu lempar-lempar!” Maa sya Allah.
———–
Itulah indahnya berbisnis dengan akhlaq karimah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : “التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Pebisnis yang jujur, amanah dan muslim, akan bersama para syuhada di hari kiamat”.

tulisan ust Ardiansyah Rahmadi….

TDA Balikpapan

TDA Balikpapan adalah komunitas pengusaha yang berada di Kota Balikpapan. Beranggotakan mulai dari pengusaha kawakan, pengusaha amatiran, pencari usaha, karyawan dan pengangguran. Siapa saja yang punya komitment untuk maju dan sukses bersama-sama bisa bergabung di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *