24 Pelajaran Dari Kejadian Bebiluck Dengan BPOM

23-pelajaran-dari-kejadian-bebiluck-dengan-bpom

Saya salah satu peserta yang ikut program pendampingan BPOM, sebagai gambaran berikut saya sampaikan hal-hal penting :

  1. Beberapa kali BPOM mengundang pelaku usaha UMKM untuk menghadiri sosialisasi dan pelatihan.
  2. Peraturan tentang produk2 tertentu tidak lagi bisa ijin di tingkat lokal (PIRT), harus BPOM dengan nama ijin edar MD sudah banyak diketahui sebagian besar pelaku UMKM.
  3. Para pelaku UMKM alumni pelatihan BPOM yang produknya wajib MD seperti produk olahan ikan, daging, susu dan berbentuk kemasan beku (Frozen) akhirnya membentuk komunitas bernama frozener food diketuai bapak Zulham pemilik sentufress. Lewat frozener food ini para pelaku UMKM yang wajib MD ini komunikasi intens.
  4. Salah satu isu yang menjadi keresahan frozener (sebutan UMKM Frozen) adalah ijin edar MD, mengingat prosedurnya lebih ketat, harus terpisah ruang produksi dengan rumah, sdm yang memadai, manajemen data yang skala pabrikan dll.
  5. Keresahan frozener ini disampaikan ke BPOM, sekitar setahun lalu, akhirnya BPOM mengundang perwakilan pelaku usaha Frozen (20 orang) untuk sharing dan diskusi, Alhamdulillah waktu itu saya diundang.
  6. Dalam forum itu semua frozener menyampaikan aspirasinya yang intinya keberatan dengan aturan ijin edar MD, sebagian besar diantara mereka menginginkan kembali ke aturan lama, cukup ijinnya edar ditingkat lokal, di dinas kesehatan dalam bentuk PIRT.
  7. Secara pribadi dalam forum itu saya usulkan apa tidak sebaiknya BPOM memberikan ijin edar seperti kementrian pendidikan memberikan akreditasi sekolah dimana sekolah ada grade akreditasi A, B, C. Untuk sekolah besar gradenya A, sekolah menengah gradenya B sekolah kecil grade C persyaratan masing2 grade silahkan ditentukan, sehingga UMKM punya pilihan, misal kalau sudah omzetnya milyaran grade yang wajib di ambil pelaku UMKM harus A, buat persyaratan ketat dan tinggi, kalau omzetnya masih jutaan dan kemampuan UMKM rendah kasih grade C, dengan persyaratan di peringan.
  8. Aturan yang sekarang kurang adil, memberlakukan sama antara usaha skala besar dan skala kecil, bahkan menyasar usaha baru, yang tidak punya ijin edar MD, untuk pemula tidak boleh mengedarkan dan menjual olahan daging semisal bakso kemasan, sementara untuk produk2 yang bukan resiko tinggi seperti keripik singkong, boleh beredar dengan ijin PIRT di tingkat lokal.
  9. Usul saya pada point 7 pada waktu itu ditolak, jawabnya simple untuk keamanan pangan tidak ada toleransi, akhirnya saya usul, BPOM harus punya pilot proyek melakukan pembinaan kepada UMKM, saya usul yang diundang hari ini dijadikan pilot proyek BPOM untuk di bina, dibimbing, diarahkan menuju MD, rekan saya Hendra TDA Jaktim yang di chat di copy kang yus diatas, adalah salah satu peserta yang ikut diskusi pada waktu itu, termasuk ibu Betsy yang sempet disemprot daeng di grup sebekalah.
  10. Pada akhirnya usul UMKM diterima, 20 orang pelaku UMKM ikut program pendampingan BPOM, seluruh biaya mulai dari pelatihan, uji lab, fasilitator dll di biayai BPOM totalnya sekitar 40 jutaan, sementara di sisi lain pelaku UMKM yang dapat pendampingan harus siap pendanaan untuk biaya sarana dan peralatan yang di perlukan.
  11. Eng ing eng episode pendampingan di mulai, tahap awal adalah pelatihan penanganan proses produksi ya baik (psb/haacp), hasilnya buat saya pribadi dan yakin juga temen2 yang lain sangat baik. Pada akhirnya saya tahu titik-titik kritis olahan makanan yang bisa menimbulkan kerawanan keamanan pangan.
  12. Tahap berikutnya adalah kesiapan sarana dan prasaran ruang produksi, disini tidak ada tawar menawar ruang produksi harus terpisah dari rumah sdr2, terpisah dalam arti bisa terpisah total dari rumah atau bisa menyatu dengan rumah tapi harus ada ruangan khusus tersendiri yang tidak bercampur dengan aktivitas rumah.
  13. Disini banyak yang pusing, butuh ketersedian dana besar untuk membuat dan menata ruangan di tengah para pelaku UMKM yang berdana pas2an. Saya Alhamdulillah sejak konsultasi dan meninjau pabrik Bu Betsy telah berpikir jangka panjang, untuk memisahkan ruang produksi dan rumah, tiga tahun lalu saya pisahkan rumah dan ruang produksi, saya menghabiskan dana 100 juta lebih untuk itu.
  14. Disini teman2 banyak yang tidak siap, akhirnya mereka terpaksa investasi untuk memenuhi kriteria ada ruang produksi khusus, ada yang sudah mundur di level ini, ada yang lanjut tapi menggerutu kekurangan dana, ada yang pasrah. Saya sendiri lanjut dengan nafas ngos2an, sudah habis 25 juta lebih untuk nambah kekurangan2 d ruang produksi.
  15. Tahap berikutnya uji lab, produk kita diuji oleh lab yang terakreditasi, kalau lolos Alhamdulillah, kalau gagal ya kita harus uji lab lagi, semisal air di rumah kita diuji lab tidak layak, kita harus mengganti dengan air lain seperti air Aqua atau air isi ulang.
  16. Tahapan selanjutnya manajemen kontrol, kita harus menyiapkan form untuk semua tahapan produksi, memeriksa dan mencatat setiap hari.
    Saya pernah kerja di perusahaan teh botol Sosro, manajemen kontrolnya mirip dengan perusahaan sekelas Sosro. UMKM yang kelasnya masih mikro dengan karyawan satu dua orang ya kerepotan melakukan hal ini.
  17. Setelah ruang produksi sesuai standar, uji lab, manajemen pengelolaan berjalan, ada penilaian akhir jika lolos akan dapat sertifikat psb/haacp dari BPOM. Patut dicatat yang melakukan proses pengawasan dan penilaian adalah balai pom setingkat propinsi, program pendampingan yang saya ikutin haja BPOM pusat.
    Terkadang diantara mereka tidak sama dalam melakukan penilaian, pusat lebih akomodatif yang balai kaku.
  18. Setelah lolos psb/haacp, baru mendaftar secara online di BPOM, dengan persyaratan tambahan legalitas usaha seperti siup, tdp, npwp, iui, ho, imb dll. Jadi itu Bebiluck masih teramat jauh untuk dapat ijin edar MD, dia harus lolos PSB/HAAC dulu, baru bisa daftar erage. Ditingkat lokal saja untuk iui butuh waktu berbulan2 apalagi di BPOM.
  19. Secara pribadi kalau saya mau berpikir egois, saya tidak akan vokal menyuarakan ijin edar BPOM, karena toh saya lagi ikut pendampingan BPOM, insya Allah kalau saya bersungguh2 bisa lolos.
  20. Namun yang saya prihatin kan nasib ribuan teman2 UMKM yang tidak ikut pendampingan, mereka lemah dalam segala dana, daya,akses dll. Mereka sering jadi korban razia dan sapi perah aparat,ini sudah terjadi di Sidoarjo Jawa timur.
  21. Karenanya saya berharap TDA tidak hanya mendampingi dan mengadvokasi Lutfie seorang, tapi lebih dari itu mendampingi ribuan UMKM yang bakal jadi korban ijin edar yang tidak adil ini.
  22. Di Bekasi saya tahu betul banyak anggota TDA yang usahanya skala mikro, masih merangkak, belum tumbuh besar seperti mas lutfie.
  23. Endingnya harus di perjuangkan keadilan dalam memperjuangkan ijin edar, tidak bisa standar usaha besar disamakan dengan usaha kecil. Kalau bisa kembalikan ijin itu ke daerah atau buat aturan sistim bertingkat seperti saya sampaikan diatas.
  24. Bisa saja TDA sharing dengan instansi terkait kementrian UMKM, BPOM, legislatif kalau perlu ke presiden untuk membuat kebijakan yang adil buat pelaku UMKM.

Sekian

Sumber: Diskusi di Group Telegram Tangan Di Atas

TDA Balikpapan

TDA Balikpapan adalah komunitas pengusaha yang berada di Kota Balikpapan. Beranggotakan mulai dari pengusaha kawakan, pengusaha amatiran, pencari usaha, karyawan dan pengangguran. Siapa saja yang punya komitment untuk maju dan sukses bersama-sama bisa bergabung di sini.

One thought on “24 Pelajaran Dari Kejadian Bebiluck Dengan BPOM

  • August 13, 2017 at 11:10 am
    Permalink

    saya sedang berwacana merintis produksi frozen food, karena perijinannya jadi agak berfikir ulang untuk memilih bisnis ini.. tadinya ingin coba jalan dulu tanpa ijin.. tapi kok ancamannya agak serius ya..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *